10 Kesalahan yang Bisa Menurunkan Nilai IELTS Speaking Kamu

Pria berlatih IELTS Speaking di laptop dengan headphone.

Merasa sudah belajar mati-matian tapi skor IELTS Speaking rasanya mentok di situ-situ aja? Kamu mungkin merasa sudah menjawab lancar, tapi nilainya tidak kunjung naik.

Perasaan frustrasi ini wajar, apalagi jika kamu sadar kesalahan yang sama terus terulang. Sering kali, masalahnya bukan hanya di apa yang kamu katakan, tapi bagaimana kamu menyampaikannya.

Yuk, kita bedah 10 kesalahan umum yang sering bikin skor kamu tertahan.

Kesalahan Umum yang Sering Menjegal Skor IELTS Speaking

1. Terjebak Simple Present Tense

Ini adalah salah satu kesalahan paling klasik. Karena Bahasa Indonesia tidak mengenal konsep tenses, kita sering lupa mengganti bentuk kata kerja saat berbicara Bahasa Inggris.

Kamu mungkin menceritakan pengalaman liburan kemarin (masa lalu), tapi masih menggunakan present tense. Misalnya, “Last week, I go to the mall. It is very fun,” padahal seharusnya, “Last week, I went to the mall. It was very fun.”

Bagi penguji, kesalahan ini sangat fundamental karena membuat alur cerita kamu jadi membingungkan. Ini langsung menunjukkan kelemahan dalam akurasi grammar dasar.

2. Lupa Aturan Subject-Verb Agreement

Dalam Bahasa Indonesia, “dia makan” dan “mereka makan” menggunakan kata kerja yang sama. Tapi dalam Bahasa Inggris, aturan subject-verb agreement sangat penting.

Kesalahan umum seperti “She go…” (seharusnya goes) atau “He like…” (seharusnya likes) masih sering terjadi. Hal yang sama berlaku untuk “The people is…” (seharusnya are).

Meskipun terlihat kecil, kesalahan ini biasanya terjadi berulang-ulang dalam percakapan. Saat penguji mendengarnya berkali-kali, ini akan sangat menurunkan skor di kriteria Grammatical Range and Accuracy.

3. Menerjemahkan Langsung dari Bahasa Indonesia

Kesalahan ini sering disebut ‘Indoglish’, yaitu saat kita menerjemahkan struktur atau frasa Bahasa Indonesia secara mentah-mentah. Ini menunjukkan bahwa kita masih berpikir dalam Bahasa Indonesia, lalu menerjemahkannya.

Hasilnya adalah kalimat yang terdengar tidak alami atau bahkan salah di telinga penguji. Perhatikan beberapa contoh yang paling sering muncul ini agar kamu bisa menghindarinya.

Frasa Salah (Indoglish)Koreksi yang Benar
“I am agree.”“I agree.”
“Thanks before.”“Thanks in advance.”
“I feel boring.” (Artinya: Saya membosankan)“I feel bored.” (Artinya: Saya merasa bosan)
“Married with…”“Married to…”
“Do a mistake”“Make a mistake”

4. Pelafalan Bunyi yang Asing di Telinga Kita

Ada beberapa bunyi dalam Bahasa Inggris yang tidak ada di Bahasa Indonesia, sehingga ‘sulit’ untuk lidah kita. Kesalahan paling umum adalah pada bunyi /th/ (seperti di think atau that), yang sering kita ganti jadi /t/, /d/, atau /s/.

Begitu juga bunyi /v/ (di kata very) yang sering tertukar menjadi /f/ (‘fery’). Ini bukan hanya soal aksen, tapi soal kejelasan. Jika penguji harus berusaha keras memahami kata-kata kamu (misalnya, kamu bilang “I tink…” padahal maksudnya “I think…”), ini bisa menyebabkan miskomunikasi dan menurunkan skormu.

5. Bicara dengan Intonasi Datar atau Monoton

Bahasa Indonesia umumnya memiliki pola intonasi yang relatif datar. Kebiasaan ini sering terbawa saat kita berbicara Bahasa Inggris, membuat kita terdengar kaku atau monoton.

Dalam Bahasa Inggris, intonasi (naik-turunnya nada) adalah bagian dari pesan. Intonasi datar bisa disalahartikan oleh penguji sebagai rasa bosan, tidak tertarik, atau bahkan tidak punya opini. Ini sangat merugikan, terutama di Part 3 saat kamu harus berdiskusi.

6. Memberi Jawaban Terlalu Pendek

Saat ditanya “Do you like movies?”, jangan hanya menjawab, “Yes, I do.” Ini adalah masalah besar karena tes ini menguji kemampuan kamu berbicara, bukan sekadar menjawab kuis.

Jawaban yang terlalu pendek tidak memberi kesempatan bagi penguji untuk menilai kosakata, grammar, dan kelancaran kamu. Mereka tidak bisa memberi kamu skor bagus jika kamu tidak memberi mereka “data” untuk dinilai. Selalu coba berikan jawaban 2-3 kalimat, misalnya: “Yes, I do. I’m a big fan of comedies because they help me relax after a long week.”

7. Terlalu Sering Berhenti atau Mengisi Jeda

Wajar jika kamu butuh waktu sejenak untuk berpikir. Namun, ada beda antara jeda alami dan hesitasi. Jika kamu terlalu sering berhenti lama atau mengisi jeda dengan ‘Ummm…,’ ‘Ehhh…,’ atau ‘Like… you know…’, itu sangat mengganggu kelancaran.

Ini sering terjadi saat kita terlalu fokus memikirkan grammar yang sempurna, sehingga malah ragu untuk berbicara. Keraguan ini memberi sinyal pada penguji bahwa kamu kesulitan menemukan kata atau menyusun kalimat.

8. Terlalu Bergantung pada Kosakata ‘Aman’

Apakah kamu sering menggunakan kata ‘good’, ‘bad’, ‘nice’, atau ‘interesting’ untuk menjelaskan hampir semua hal? Ini menunjukkan kosakata yang terbatas dan tidak bervariasi.

Kriteria Lexical Resource (Kosakata) menilai rentang (range) kosakata kamu. Cobalah gunakan kata yang lebih spesifik. Jika makanannya enak, katakan ‘delicious’ atau ‘flavourful’. Jika pemandangannya bagus, gunakan ‘stunning’ atau ‘breathtaking’. Ini menunjukkan kamu menguasai lebih banyak kosakata.

9. Memberi Jawaban Ragu-Ragu karena Tidak Enak

Ini seringkali menjadi jebakan budaya. Kita terbiasa menjaga harmoni dan tidak ingin terdengar ‘sok tahu’ atau kasar di depan orang lain.

Akibatnya, saat ditanya opini, kita cenderung menjawab berputar-putar atau terlalu hati-hati, misalnya, “Maybe… I think… perhaps it’s like that…”. Penguji, yang mungkin tidak paham konteks budaya ini, akan melihatnya sebagai keraguan atau ketidakmampuan mengembangkan ide.

10. Menghindari Opini Pribadi yang Kuat

Mirip dengan poin sebelumnya, kita sering menghindari opini yang tajam dan memilih jawaban yang ‘aman’ atau netral. Padahal, Part 3 IELTS Speaking dirancang untuk menguji kemampuan kamu berdiskusi, menganalisis, dan berspekulasi.

Kamu tidak dinilai benar atau salahnya opini kamu, tapi dinilai cara kamu menyampaikannya. Jangan takut untuk bilang, “In my opinion, I strongly believe that…” asalkan kamu bisa menjelaskannya dengan baik. Menghindari opini justru berarti kamu menghindari tugas yang diberikan.

Dari Kesadaran Menjadi Aksi

Mengenali 10 kesalahan ini adalah langkah awal yang sangat penting. Banyak dari masalah ini memang berakar kuat dari kebiasaan kita berbahasa Indonesia dan norma budaya kita.

Kunci selanjutnya adalah latihan yang fokus. Cobalah rekam suaramu sendiri saat berlatih, lalu dengarkan kembali untuk mengecek apakah kamu masih melakukan kesalahan-kesalahan ini. Ini adalah kebiasaan yang bisa diubah. Dengan latihan yang konsisten dan tepat sasaran, skor kamu pasti bisa meningkat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top