13 Istilah Medis Bahasa Inggris yang Sering Salah Ucap (dan Berisiko!)

Tenaga medis stres belajar istilah medis yang sulit

Pernah nggak, kamu merasa ragu-ragu sepersekian detik sebelum bilang “pneumonia” atau “dysphagia” di depan kolega atau pasien?

Kamu mungkin khawatir pelafalannya salah, terdengar nggak profesional, atau lebih parahnya, bikin bingung.

Kenyataannya, kamu nggak sendirian. Ini bukan cuma masalah “lidah Indonesia”.

Kabar baiknya, ini bisa diperbaiki. Tujuannya bukan buat punya aksen native, tapi untuk kejelasan dan keselamatan pasien.

Kenapa Istilah Medis Sulit Diucapkan?

Singkatnya, istilah medis itu bukan bahasa Inggris murni.

Sebagian besar terminologi medis adalah “bahasa hibrida” yang ditarik dari bahasa Yunani dan Latin. Aturan fonetiknya seringkali beda total dengan bahasa Inggris standar.

Kata seperti cholecystectomy (pengangkatan kantung empedu) pada dasarnya adalah gabungan kata Yunani (chole + cyst + -ectomy).

Selain itu, Bahasa Inggris adalah bahasa stress-timed (ritmenya diatur oleh penekanan kata), sementara Bahasa Indonesia cenderung syllable-timed (tiap suku kata dibaca sama).

Inilah yang bikin kita sering salah menempatkan penekanan (stress), yang ternyata krusial buat makna.

Daftar Istilah Medis yang Sering Salah Ucap

Berikut adalah beberapa istilah yang paling sering salah ucap, dibagi berdasarkan penyebab kesalahannya.

1. Istilah dengan Huruf Senyap atau Suara Tak Terduga

a. Pneumonia (radang paru)

  • Salah Ucap Umum: p-neu-mo-ni-a (huruf ‘P’ dibaca)
  • Pelafalan Tepat: /n(j)uːˈməʊ.ni.ə/ (new-MOW-nia)
  • Perangkapnya: Dalam bahasa Yunani, kombinasi ‘pn’ di awal kata, huruf ‘p’ nya selalu silent (senyap). Sama seperti psychiatry.

b. Cholecystectomy (angkat kantung empedu)

  • Salah Ucap Umum: cho-les-sis-tek-to-mi (dengan ‘ch’ seperti “Ciputat”)
  • Pelafalan Tepat: /ˌkɒl.ə.sɪsˈtek.tə.mi/ (kol-uh-sis-TEK-tuh-mee)
  • Perangkapnya: ‘Ch’ di sini berasal dari Yunani dan dibaca sebagai /k/ (suara ‘k’). Sama seperti chronic atau chrome.

c. Esophageal (berkaitan dengan esofagus)

  • Salah Ucap Umum: e-so-PA-ge-al (dengan ‘g’ keras seperti “gajah”)
  • Pelafalan Tepat: /ɪˌsɒf.əˈdʒiː.əl/ (ee-sof-uh-JEE-uhl)
  • Perangkapnya: Huruf ‘g’ di tengah kata ini secara tak terduga berubah jadi suara /dʒ/ (seperti ‘j’ pada “Jakarta”).

d. Alveoli (kantung udara di paru-paru)

  • Salah Ucap Umum: al-vee-OH-lee
  • Pelafalan Tepat: /ælˈviː.ə.laɪ/ (al-VEE-uh-ly)
  • Perangkapnya: Mengandung fonem /v/ yang sulit untuk penutur Indonesia (sering jadi /f/). Vokal akhirnya juga /aɪ/ (ly), bukan /i/ (lee).

2. Pasangan Kritis yang Berisiko Tertukar

a. Hypotension vs Hypertension

  • Arti: Tekanan darah rendah (Hypo) vs. Tekanan darah tinggi (Hyper).
  • Pelafalan Tepat:
    • Hypo-: /ˈhaɪ.poʊ-/ (HY-poh)
    • Hyper-: /ˈhaɪ.pər-/ (HY-per)
  • Perangkapnya: Perbedaannya tipis di vokal /oʊ/ (oh) lawan vokal+R (/pər/). Memberi obat penurun tensi ke pasien hypotension bisa berakibat fatal.

b. Dysphagia vs Dysphasia

  • Arti: Kesulitan menelan (Dysphagia) vs. Gangguan bahasa/bicara akibat kerusakan otak (Dysphasia).
  • Pelafalan Tepat:
    • Dysphagia: /dɪsˈfeɪ.dʒi.ə/ (dis-FAY-jee-uh) (dengan suara ‘j’)
    • Dysphasia: /dɪsˈfeɪ.zi.ə/ (dis-FAY-zee-uh) (dengan suara ‘z’)
  • Perangkapnya: Beda satu fonem, tapi diagnosis dan rujukannya beda total. Satu ke gastro/speech therapist, satu lagi ke neurolog.

c. Ileum vs Ilium

  • Arti: Bagian akhir usus kecil (Ileum) vs. Bagian atas tulang panggul (Ilium).
  • Pelafalan Tepat: Keduanya diucapkan identik: /ˈɪl.i.əm/ (IL-ee-um).
  • Perangkapnya: Ini adalah homofon. Dalam laporan verbal atau transkripsi, konteks harus sangat jelas. Salah diagnosis bisa berujung bedah di area yang salah.

3. Istilah dengan Kesalahan Penekanan atau Vokal

a. Tinnitus (telinga berdenging)

  • Salah Ucap Umum: ti-NITE-us (seperti akhiran -itis / inflamasi)
  • Pelafalan Tepat: /ˈtɪn.ɪ.təs/ (TIN-it-us)
  • Perangkapnya: Banyak yang mengira ini inflamasi (seperti hepatitis), padahal bukan. Penekanan yang benar ada di suku kata pertama.

b. Diabetes

  • Salah Ucap Umum: di-a-be-tuss (akhiran ‘tes’ dibaca “tuss”)
  • Pelafalan Tepat: /ˌdaɪ.əˈbiː.tiːz/ (die-uh-BEE-teez)
  • Perangkapnya: Vokal di akhir kata. Bukan /əs/ (uss), tapi /iːz/ (eez).

c. Occipital (bagian belakang kepala)

  • Salah Ucap Umum: o-SIP-i-tal
  • Pelafalan Tepat: /ɒkˈsɪp.ɪ.təl/ (ok-SIP-it-ul)
  • Perangkapnya: Penekanan yang benar ada di suku kata kedua (“SIP”), bukan yang pertama.

d. Jejunum (bagian tengah usus kecil)

  • Salah Ucap Umum: JE-joo-num
  • Pelafalan Tepat: /dʒəˈdʒuː.nəm/ (juh-JOO-num)
  • Perangkapnya: Kesalahan umum adalah meletakkan penekanan di suku kata pertama. Penekanan yang benar ada di suku kata kedua (“JOO”).

Penyebab Kesalahan Pelafalan bagi Penutur Indonesia

Kalau kamu perhatikan, banyak dari kesalahan di atas punya pola yang sama. Ini erat kaitannya dengan “interferensi bahasa ibu” (L1 Interference).

Sebuah studi (2024) terhadap mahasiswa administrasi RS di Indonesia menemukan 87% kesalahan pelafalan adalah substitusi—kita mengganti suara yang nggak ada di Bahasa Indonesia dengan suara terdekat yang kita punya.

1. Substitusi Suara (Penggantian Fonem)

a. Suara /v/ menjadi /f/ atau /p/ Suara /v/ (seperti vein atau very) tidak ada di Bahasa Indonesia. Kita cenderung menggantinya jadi /f/. Inilah kenapa kata Alveoli (/ælˈviː.ə.laɪ/) sangat menantang.

b. Suara ‘th’ /θ/ menjadi /t/ Suara ‘th’ (seperti thorax atau thin) juga tidak ada. Kita otomatis menggantinya dengan /t/ (“torak” atau “tin”).

c. Suara /z/ di akhir kata menjadi /s/ Kita punya suara /z/, tapi cenderung mengubahnya jadi /s/ di akhir kata. Misalnya, symptoms (jamak) terdengar sama persis dengan symptom (tunggal).

2. Faktor Psikologis

Seringkali, kita sebenarnya tahu bunyinya beda, tapi “malu” atau takut salah. Takut dikritik bikin kita jadi ragu-ragu dan akhirnya malah memilih suara yang “aman” (suara L1 kita).

Solusi Praktis untuk Meningkatkan Kejelasan

Ingat, tujuannya adalah Intelligibility (kemudahpahaman) dan Safety (keamanan). Kamu nggak perlu menghilangkan aksen Indonesia-mu.

1. Metode Dekonstruksi Kata

Jangan hafalkan kata panjang. Pecah jadi komponennya: prefix (awalan), root (akar), dan suffix (akhiran).

  • Contoh: Hypothermia = hypo- (rendah) + therm (panas) + -ia (kondisi).
  • Dengan paham arti komponen ini, kamu bisa menebak pelafalan ratusan kata lain.

2. Latihan Fonetik Terfokus

Latih suara yang nggak ada di L1 kita.

  • Latih bedakan /v/ dan /f/ secara fisik. Rasakan getaran di bibir bawah saat bilang /v/ (Coba: vein vs. fain).
  • Latih ‘th’ /θ/ dengan menempatkan lidah di antara gigi (Coba: thorax vs. torak).

3. Merekam Suara Sendiri

Ini adalah cara yang sangat efektif. Coba rekam suaramu saat menyebut 10 kata di atas, lalu bandingkan dengan pelafalan di Google atau kamus online. Kamu akan mendengar perbedaannya dengan jelas.

Kesimpulan

Salah ucap terminologi medis itu wajar. Itu adalah respons logis dari sistem bahasa yang kompleks dan berbeda.

Dengan memfokuskan latihan pada area yang paling berisiko—seperti pasangan hypo vs hyper dan suara kritis (/v/, /th/)—kamu bisa meningkatkan kejelasan komunikasi secara drastis.

Pada akhirnya, ini bukan soal gengsi pelafalan, tapi soal memastikan instruksi yang kita beri dan terima 100% akurat demi keselamatan pasien.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top