Sebagai tenaga kesehatan, kamu mungkin sering menulis “Hipertensi” di satu rekam medis, tapi menulis “Hypertension” di rekam medis lainnya.
Atau, kamu menyingkat “Old Myocardial Infarction” menjadi “OMI” agar lebih cepat, meskipun itu bukan singkatan standar.
Kelihatannya ini hal kecil. Tapi, penggunaan terminologi medis bahasa Inggris yang tidak standar dan tidak akurat punya pengaruh langsung terhadap keselamatan pasien dan standar profesionalisme.
Ini bukan soal “bisa Bahasa Inggris” biasa, ini adalah disiplin yang berbeda dengan taruhan yang jauh lebih tinggi.
Perbedaan Mendasar Bahasa Inggris Medis dan Umum
Banyak yang menyamakan Bahasa Inggris Umum (General English) dengan Bahasa Inggris Medis (Medical English). Padahal, keduanya punya tujuan yang sangat berbeda dan diatur oleh prinsip yang berbeda.
1. Fokus pada Akurasi Absolut
Bahasa Inggris Umum berfokus pada kelancaran komunikasi sosial dan variasi bahasa. Menggunakan banyak sinonim dianggap bagus.
Bahasa Inggris Medis adalah bagian dari English for Specific Purposes (ESP). Disiplin ini menghindari variasi dan menuntut satu hal: akurasi absolut dan fakta.
Dalam konteks klinis, seorang dokter yang menggambarkan ruam sebagai “merah delima” (crimson) di satu hari dan “merah bata” (ruddy) di hari lain telah menciptakan kebingungan data. Apakah ini ruam yang sama, atau kondisinya berubah?
2. Terminologi Teknis Presisi
Bahasa Inggris Umum memakai kosa kata sehari-hari, misalnya “heart attack” atau “high blood pressure”.
Bahasa Inggris Medis memakai terminologi teknis yang sangat presisi, yang sebagian besar berakar dari bahasa Latin dan Yunani. Contohnya, “myocardial infarction” atau “hypertension”.
3. Struktur Kalimat untuk Objektivitas
Penulisan klinis medis dan laporan penelitian sering menggunakan passive voice (kalimat pasif). Contohnya, “Antibiotics were administered” (Antibiotik telah diberikan).
Tujuannya adalah untuk menekankan objektivitas, tindakan, atau hasil, bukan individu yang melakukannya.
Ini berbeda dari bahasa Inggris umum yang cenderung menggunakan active voice (kalimat aktif), seperti “The doctor gave antibiotics” (Dokter memberi antibiotik).
Saat Kesalahan Bahasa Menjadi Isu Keselamatan Pasien
Dalam konteks klinis, akurasi bahasa adalah keharusan mutlak. Kesalahan kecil dalam terminologi dapat menyebabkan kerugian pasien yang serius dan permanen.
1. Data Global Kerugian Pasien
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa 1 dari 10 pasien di seluruh dunia mengalami kerugian saat menerima perawatan. Di layanan primer, angkanya lebih buruk, 4 dari 10 pasien mengalami kerugian.
Poin pentingnya, WHO memperkirakan hingga 80% dari kerugian tersebut avoidable (dapat dicegah). Ini menunjukkan adanya kegagalan sistemik, di mana komunikasi memainkan peran sentral.
The Joint Commission, badan akreditasi utama di AS, melaporkan bahwa komunikasi yang buruk merupakan faktor kontribusi dalam lebih dari 60% dari semua kejadian buruk di rumah sakit.
Sebuah analisis bahkan menemukan bahwa 7.149 kasus kegagalan komunikasi berkontribusi pada kerugian finansial sebesar $1,7 miliar akibat kerugian pasien yang tidak dapat diperbaiki.
2. Studi Kasus Fatal Willie Ramirez
Pada tahun 1980, Willie Ramirez (18 tahun) dilarikan ke UGD Florida dalam keadaan koma. Keluarganya yang hanya berbicara bahasa Spanyol mencoba menjelaskan situasinya.
Mereka memberi tahu staf bahwa ia “intoxicado”.
Ini adalah titik kegagalan fatal. Dalam dialek Spanyol Kuba yang mereka gunakan, “intoxicado” berarti “merasa tidak enak badan karena sesuatu yang tertelan” atau “keracunan makanan”.
Staf dan penerjemah tidak terlatih salah mengartikannya sebagai kognat Inggris yang terdengar mirip: “intoxicated”. Istilah “intoxicated” secara spesifik berarti “mabuk” atau “overdosis obat”.
Akibatnya, dokter merawat Ramirez untuk overdosis obat selama hampir dua hari. Diagnosis sebenarnya, yaitu perdarahan otak (brain hemorrhage), sepenuhnya terlewatkan.
Penundaan fatal dalam perawatan yang tepat ini menyebabkan Willie Ramirez mengalami quadriplegic (lumpuh total dari leher ke bawah) seumur hidupnya.
3. Dampak Jangka Panjang (Kerugian Sekunder)
Kerugian akibat kesalahan medis tidak berhenti pada cedera fisik.
Sebuah studi yang meneliti pasien dan keluarga lima tahun setelah kejadian berbahaya menemukan dampak jangka panjang yang menghancurkan:
- Fisik: 66% melaporkan dampak fisik berkelanjutan, termasuk kebutaan, kerusakan otak, dan kecacatan permanen.
- Finansial: 31% mengalami dampak finansial, seperti kehilangan karir atau bisnis keluarga.
- Psikologis: Setengah dari peserta melaporkan “kemarahan yang berkelanjutan” dan “kenangan yang jelas” yang digambarkan sebagai “mimpi buruk” atau “neraka”.
Titik Rawan Miskomunikasi Klinis Sehari-hari
Kegagalan komunikasi tidak hanya terjadi dalam kasus dramatis. Ini terjadi dalam operasional rumah sakit sehari-hari di beberapa titik rawan.
1. Serah Terima Pasien (Patient Handovers)
Proses transfer tanggung jawab perawatan antar shift atau antar unit adalah salah satu momen paling rentan.
Studi menunjukkan serah terima yang “salah dan tidak lengkap” dapat meningkatkan persentase kesalahan. Hambatan spesifik yang diidentifikasi termasuk “penggunaan bahasa yang tidak jelas”, “singkatan dan akronim” non-standar, dan “perbedaan budaya”.
Inilah mengapa alat komunikasi terstruktur seperti SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) dikembangkan. SBAR memaksa praktisi menggunakan bahasa yang umum, presisi, dan standar untuk mengurangi risiko salah interpretasi.
2. Kegagalan Pengumpulan Informasi
Kesalahan juga bisa terjadi karena kegagalan proses komunikasi klinis. Sebuah studi kasus menggambarkan ini dengan jelas.
Seorang dokter meresepkan hydrochlorothiazide (HCTZ), sejenis diuretik, untuk pasien dengan tekanan darah agak tinggi.
Dokter melakukan information giving (pemberian informasi) dengan benar (“makan pisang setiap hari” untuk menjaga kalium).
Tapi, dokter gagal total dalam information gathering (pengumpulan informasi). Dokter tidak bertanya tentang obat lain (pasien memakai escitalopram, yang meningkatkan risiko hiponatremia) atau kebiasaan gaya hidup (pasien adalah “pelari berat” dan “sering puasa”).
Hasilnya, pasien tersebut pingsan saat berlari dan dilarikan ke UGD dengan hiponatremia dan hipokalemia yang mengancam jiwa. Kesalahan ini murni karena kegagalan komunikasi dua arah.
3. Dua Register Bahasa Medis
Seorang profesional medis harus menguasai dua register bahasa yang berbeda:
- Register 1 (Provider-to-Provider): Komunikasi teknis yang cepat dan presisi dengan kolega, menggunakan jargon dan singkatan standar.
- Register 2 (Provider-to-Patient): Kemampuan untuk “menerjemahkan” jargon teknis yang sama ke dalam bahasa awam yang sederhana dan empatik.
Kegagalan di Register 1 (misal: saat serah terima SBAR) dapat menyebabkan kesalahan pengobatan.
Kegagalan di Register 2 (misal: menggunakan istilah “erythematous” alih-alih “kemerahan” pada pasien) dapat menyebabkan pasien bingung, cemas, dan tidak patuh pada rencana perawatan.
Kesenjangan Kompetensi di Indonesia
Masalah terminologi ini sangat relevan dan terjadi di fasilitas kesehatan Indonesia. Akarnya dapat ditelusuri kembali ke tingkat pendidikan.
1. Ketidaktepatan Diagnosis di Rekam Medis
Sebuah studi yang dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Lemdiklat POLRI menganalisis ketepatan terminologi medis pada penulisan diagnosis sistem kardiovaskular.
Temuannya signifikan: tingkat ketidaktepatan dalam penggunaan istilah terminologi medis adalah 32% (31 dari 98 diagnosis).
Penting dicatat, ini bukan kesalahan diagnostik medis (menentukan penyakit yang salah), melainkan murni kesalahan terminologi dalam penulisan rekam medis.
Penyebab utama ketidaktepatan ini adalah:
- Penggunaan Bahasa Indonesia (misal: “Hipertensi” padahal standar internasional ICD-10 mengharuskan “Hypertension”).
- Singkatan Non-Standar (misal: “OMI” alih-alih “Old Myocardial Infarction”, atau “SVT” alih-alih “Supraventricular Tachycardia”).
- Penulisan diagnosis tidak lengkap (misal: “Angina” alih-alih “Angina Pectoris”).
2. Akar Masalah di Pendidikan
Akar masalah ini terlihat jelas di tingkat pendidikan. Sebuah studi di kalangan mahasiswa kedokteran di Universitas Muslim Indonesia (UMI) menyoroti kesenjangan besar.
Sebagian besar mahasiswa (68,8%) menganggap bahasa Inggris “penting” untuk karir mereka.
Namun, realitasnya, kemampuan bahasa Inggris mereka yang sebenarnya “masih sangat kurang”. Rata-rata skor TOEFL mereka hanya 420, yang dikategorikan sebagai low intermediate.
Data kuncinya: tidak ada satupun mahasiswa kedokteran di UMI dalam studi itu yang memperoleh nilai standar minimal 500.
3. Ilusi Kompetensi Akibat “Meminjam”
Studi lain tentang bagaimana mahasiswa keperawatan dan kebidanan menerjemahkan teks medis menemukan bahwa teknik dominan mereka adalah “peminjaman” (borrowing).
Artinya, mereka “terbiasa menggunakan istilah medis bahasa Inggris,” sehingga mereka “mempertahankan istilah-istilah tersebut di bahasa sasaran”.
Ini adalah ilusi kompetensi. Mereka mungkin dapat mengatakan istilah bahasa Inggris (misal, “pasien ini mengalami myocardial infarction”), tetapi ini adalah hafalan, bukan pemahaman mendalam.
Ini tidak berarti mereka dapat menjelaskannya kepada pasien (gagal di Register 2) atau memahami nuansanya dalam jurnal penelitian.
4. Contoh Ketidaktepatan Terminologi di RS Indonesia
Tabel berikut merangkum temuan studi di RS Bhayangkara mengenai kesalahan penulisan terminologi yang umum terjadi.
| Istilah yang Digunakan (Tidak Tepat) | Istilah Standar (yang Seharusnya) | Kategori Ketidaktepatan |
| Hipertensi | Hypertension | Penulisan istilah dengan Bahasa Indonesia |
| Aritmia | Arrhythmia | Penulisan istilah dengan Bahasa Indonesia |
| OMI | Old Myocardial Infarction | Penggunaan istilah singkatan (Tidak Standar) |
| SVT | Supraventricular Tachycardia | Penggunaan istilah singkatan (Tidak Standar) |
| AMI | Acute Myocardial Infarction | Penggunaan istilah singkatan (Tidak Standar) |
| AV Block Derajat 1 | Atrioventricular Block, First Degree | Penggunaan istilah singkatan & Bahasa Indonesia |
| Angina | Angina Pectoris | Penulisan diagnosis tidak lengkap |
Standar Profesional yang Mendorong Perubahan
Mengingat kesenjangan kompetensi ini, ada tiga kekuatan pendorong utama yang memaksa rumah sakit dan tenaga kesehatan di Indonesia untuk meningkatkan standar bahasa Inggris medis mereka.
1. Tuntutan Akreditasi JCI
Bagi rumah sakit di Indonesia, akreditasi dari Joint Commission International (JCI) adalah standar emas. JCI memiliki standar yang sangat ketat mengenai bahasa dan komunikasi.
Standar HR.01.01.01, misalnya, mengharuskan rumah sakit untuk mendefinisikan kualifikasi staf yang bertugas sebagai penerjemah untuk pasien. Kualifikasi ini harus dipenuhi melalui “penilaian kemahiran bahasa, pendidikan, pelatihan, dan pengalaman”.
Ini menciptakan kebutuhan pasar yang jelas bagi nakes untuk memiliki sertifikasi pelatihan yang tervalidasi.
2. Peluang Kompetitif Pariwisata Medis
Bahasa Inggris bukan hanya tentang kepatuhan, ini tentang bisnis. Indonesia memiliki ambisi yang berkembang untuk menjadi tujuan pariwisata medis.
Untuk menarik dan melayani pasien internasional secara kompetitif, kemampuan bahasa Inggris staf rumah sakit bukanlah biaya operasional, melainkan kebutuhan kompetitif.
3. Kemajuan Riset dan Karir
Bagi dokter dan peneliti, kemajuan karir profesional bergantung pada penguasaan bahasa Inggris medis.
Ini adalah kebutuhan mutlak untuk memahami literatur medis dan jurnal penelitian internasional, serta untuk mempresentasikan temuan di konferensi medis global.
Solusi Tepat Sasaran OET vs IELTS
Masalah yang diuraikan di atas tidak dapat diselesaikan dengan kursus bahasa Inggris umum. Solusinya harus terspesialisasi dan kontekstual.
Di sinilah letak perbedaan kritis antara dua jalur pengujian utama: IELTS dan OET.
1. Perbedaan Mendasar Tujuan Tes
IELTS Academic menguji kemampuan bahasa Inggris akademik umum. Kontennya bersifat umum. Di tes speaking IELTS, kamu mungkin akan ditanya soal hobi atau topik umum seperti daur ulang.
OET (Occupational English Test) dirancang khusus untuk 12 profesi layanan kesehatan, termasuk kedokteran, keperawatan, dan farmasi. OET menggunakan skenario klinis nyata.
2. OET Mensimulasikan Tugas Klinis Nyata
Keunggulan OET terletak pada kemampuannya mensimulasikan tugas klinis yang berisiko tinggi:
- OET Speaking: Tes ini adalah simulasi role-play (permainan peran) skenario klinis. Kamu berperan sebagai profesional (misal: dokter) dan penguji berperan sebagai pasien.
- OET Writing: Tes ini (45 menit) meminta kamu menulis surat yang relevan secara profesional, paling sering surat rujukan (referral letter), berdasarkan rekam kasus (case notes) pasien. Ini menguji keterampilan yang sama persis dengan yang dibutuhkan untuk patient handover yang aman.
3. Kriteria Penilaian OET yang Relevan
OET Speaking tidak hanya menilai linguistik (tata bahasa, kosa kata). Tes ini juga menilai Kriteria Komunikasi Klinis (Clinical Communication Criteria), seperti:
- Relationship building (Membangun hubungan)
- Understanding & incorporating the patient’s perspective (Memahami perspektif pasien)
- Providing structure (Memberikan struktur percakapan)
- Information gathering (Mengumpulkan informasi)
- Information giving (Memberikan informasi)
Kriteria ini secara langsung menguji keterampilan yang akan mencegah terulangnya kasus HCTZ (gagal information gathering) dan kasus Ramirez (gagal understanding perspective).
4. Klarifikasi Penting Visa vs Lisensi
Banyak tenaga kesehatan Indonesia salah memahami persyaratan. Ada perbedaan kritis antara persyaratan bahasa untuk visa imigrasi dan lisensi profesional.
Syarat Visa: Banyak visa kerja, seperti UK Health and Care Worker Visa, memiliki persyaratan bahasa Inggris yang relatif rendah, seringkali setara dengan IELTS 4.0.
Syarat Lisensi (Registrasi): Ini adalah standar yang jauh lebih tinggi. Untuk bekerja secara legal sebagai dokter atau perawat, seseorang harus mendaftar ke badan pengatur (misal: GMC di Inggris). Badan-badan ini membutuhkan skor yang jauh lebih tinggi, seperti OET Grade B (skor 350+) atau IELTS 7.0+.
IELTS 4.0 mungkin membawa kamu ke negara tujuan, tetapi OET Grade B yang memungkinkan kamu untuk berpraktik.
5. Perbandingan Ujian IELTS Academic vs OET
Tabel ini menyoroti perbedaan utama antara kedua ujian tersebut.
| Fitur | IELTS Academic | OET (Medicine/Nursing) |
| Tujuan Tes | Menguji bahasa Inggris akademik umum | Menguji bahasa Inggris klinis spesifik profesi |
| Sub-tes Speaking | Diskusi topik umum & abstrak | Permainan peran (Pasien-Dokter) skenario klinis nyata |
| Sub-tes Writing | Menulis esai opini tentang topik umum | Menulis surat rujukan/transfer berdasarkan rekam kasus |
| Keterampilan yang Dinilai | Kemampuan bahasa (tata bahasa, kosa kata) | Kemampuan bahasa + Keterampilan Komunikasi Klinis |
Kesimpulan
Akurasi terminologi medis bahasa Inggris bukanlah keterampilan tambahan. Itu adalah pilar fundamental yang menopang keselamatan pasien, kepatuhan profesional, dan standar layanan kesehatan modern.
Data dari Indonesia, termasuk rendahnya skor profisiensi mahasiswa kedokteran (TOEFL 420) dan tingginya angka ketidaktepatan terminologi dalam rekam medis di rumah sakit (32%), menunjukkan adanya kesenjangan yang berbahaya antara kebutuhan dan kompetensi.
Solusinya bukanlah sekadar kursus bahasa Inggris umum. Solusinya adalah pelatihan Bahasa Inggris untuk Keperluan Khusus (ESP) yang terspesialisasi, berbasis konteks, dan dirancang untuk skenario klinis berisiko tinggi.

